Cute Box Bear “Life isn't about finding yourself. Life is about creating yourself.” ― George Bernard Shaw

Jumat, 19 Desember 2014

Menggenggam Sejarah yang Rentan Punah

Enung Nurul Huda


Enung Nurul Huda merupakan pebatik motif sukapura tertua yang masih aktif berkarya dan Enung masih bertahan untuk melestarikan sejarah motif batik khas Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat yang rentan punah. Harga batik sukapura yang tinggi kerap menurunkan selera konsumen. Padahal, harga tersebut dianggap layak karena pembuatan batik hingga satu bulan per helai serta kerumitan motif yang membuat itu menjadi layak sebagai pencapaian yang baik.
            Enung sempat bekerja di Jakarta untuk mencari pekerjaan yang layak namun akhirnya darah seniman batik memanggilnya kembali ke kampung sekitar 10 bulan kemudian. Saat ia kembali ke kampungnya, batik sukapura berada pada puncak kejayaan. Setiap motif batik sukapura yang dibuat oleh Enung memiliki banyak makna seperti batik motif belah ketupat yang dipercaya masyarakat akan enteng jodoh dan rezeki dan motif ini biasa digunakan dalam syukuran pesta pernikahan.
            Krisis moneter membuat harga bahan kain melonjak lebih dari 10 kali lipat dari harga semula. Usaha yang dikelola Enung bahkan harus libur produksi hingga beberapa bulan. Untuk mempertahankan usaha ini sangat sulit tetapi Enung mempertahankan kreativitas untuk menjaga batik sukapura agar tetap ada. Salah satu cara yang ia lakukan adalah mengembangkan teknik pewarnaan. Selain pameran di kota besar, Enung juga mempromosikan batik ke lingkungan sekolah. Enung ingin generasi muda Tasikmalaya mengenal keunggulan batik sukapura.
            Iyan Anwar Gunawan merupakan pembuat motif kampong naga dengan dominasi merah bata beranggapan bahwa Enung merupakan salah satu inspirasi membuat motif batik Tasikmalaya dan ia berharap desainnya bisa menjadi semangat bagi Enung dan pebatik sukapura lainnya untuk terus bertahan. Batik sukapura perlahan menemukan kembali nama besarnya dan Enung merasakan bahwa dia tidak sendirian mempertahankan batik sukapura.
            Menurut pendapat saya, sosok Enung Nurul Huda merupakan sosok yang tangguh dan tidak pernah menyerah untuk mempertahankan batik sukapura agar terus berkembang dan tidak ditinggalkan masyarakat luas. Segala usaha dilakukan Enung demi mempertahankan semua motif batik sukapura dan semoga segala usaha yang Enung lakukan bisa terus berkembang dengan baik.

             
Sumber : Koran Kompas (Rabu,17 Desember 2014)
Nama : Floretta Agnesia Kana
Kelas : La64
NIM : 1801379514

Jumat, 12 Desember 2014

Melahirkan Novel dalam Keterbatasan

Ariny NH

 

         Ariny NH adalah sosok yang sudah mampu menghasilkan sejumlah novel,cerpen, dan puisi. Meski lahir dengan sebuah keterbatasan fisik, Ariny Nurul Haq memiliki impian yang tinggi dan tidak terbatas. Novel pertamanya berjudul Kuntilanak Gaul dan novel tersebut setebal 189 halaman terbit Agustus 2012. Novel tersebut hanya diterbitkan oleh penerbit indie dan itu membuatnya cukup bahagia.
            Ariny sebenarnya ingin sekali melanjutkan sekolah tetapi karena keterbatasan yang dia miliki orangtuanya tidak mampu untuk menggendongnya untuk pergi sekolah setiap hari. Pada akhirnya orangtuanya pun tidak lagi menyekolahkan Ariny. Padahal, secara ekonomi, orangtuanya cukup mampu membiayai pendidikan anaknya. Selama Ariny tidak sekolah, dia hanya menghabiskan waktu dengan membuka media social yaitu Facebook.
            Sejak tahun 2012, Ariny semakin semangat menulis setelah memiliki computer dan berkenalan dengan Fitria Prarnasari, penulis novel horror dan scenario film bioskop Indonesia di salah satu stasiun televisi swasta. Sejak berkenalan dengan Fitria, Ariny mengaku mendapatkan banyak ilmuu dalam hal menulis. Dia diajarkan mengenai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), kelogisan bahasa, dan karakter dalam penulisan.
            Setelah menghasilkan beberapa novel dengan berkolaborasi, pada akhir 2012, Ariny mencoba menulis novel secara individu. Dua novel dia selesaikan. Novel berjudul  Kukembalikan Cintamu dan Kamu adalah Cintaku akhirnya bisa menembus penerbit mayor dan membuat Ariny gembira. Dalam hidupnya, ia berprinsip, keterbatasan fisik itu sama sekali bukan penghalang untuk menuju kesuksesan. Yang sering kali menjadi penghalang ialah keinginan untuk mendapatkan kesuksesan dengan cara cepat.
            Menurut pendapat saya, sosok Ariny NH ini merupakan sosok yang bisa berjuang untuk sesuatu yang ia gemari yaitu menulis. Segala lika-liku ia lewati dalam membuat suatu novel dan tidak pernah menyerah. Berbagai novel yang tadinya tidak diterima oleh penerbit akhirnya bisa lolos ke penerbit mayor dan membuatnya bahagia. Jangan pernah berpikir bahwa keterbatasan fisik adalah akhir dari segalanya tapi kita harus bisa tetap melihat peluang dan terus berusaha dengan segala mimpi yang ingin kita raih.

Terima Kasih :) 
Sumber : Koran Kompas ( Rabu, 10 Desember 2014)
Nama : Floretta Agnesia Kana
NIM : 1801379514
Kelas : La64


Rabu, 03 Desember 2014

Membuat Wayang dengan Mata Batin



Agustinus Sardjono Hadisurjo 








   Agustinus Sardjono Hadisurjo adalah perajin wayang sekaligus dalang tunanetra asal Yogyakarta. Berbagai ragam wayang telah dibuatnya mulai dari wayang beber, wayang kulit, wayang klithik, dan patung tokoh dari dunia pewayangan. Semua ide dan hasil kreasinya berasal dari kenangan, memori tentang wayang yang terekam kuat dalam pikirannya sejak masih berusia balita hingga sebelum dia kehilangan penglihatan.
Dalam membuat setiap karya wayangnya ia selalu melakukan finishing dengan cara perabaan dan dalam tahap ini Sardjono merasa bahwa tangan Tuhan sungguh bekerja dalam membantunya untuk bisa memperbaiki karyanya hingga menjadi karya yang baik dan sempurna. Membuat wayang dianggapnya sebagai bagian dari seni tradisi agung. Sardjono memang tidak main-main dalam membuat setiap karyanya dan setiap karya harus dipastikannya dilakukan dengan hati-hati dan teliti.
Dari proses yang telah dilakukan Sardjono inilah lahir beragam seni kerajinan wayang yang memikat. Ratusan produk selalu dibuat setiap bulan dan omzet yang didapatkan Rp 25 jut per bulan. Sebagian karyanya dijual di pasar domestic dan sebagian lain ke kolektor-kolektor asing di sejumlah Negara, anatara lain Hongkong, Amerika Serikat, Belanda, dan Jepang. Penjualan langsung ini tanpa melalui eksportir.
Kelainan mata yang dirasakan Sardjono sejak usia 14 tahun dengan keluhan sering pusing. Ketika itu, dia merasa pandangannya sering kabur, seperti kunang-kunang yang dilihatnya. Semenjak itu Sardjono rajin pergi ke rumah sakit untuk mengetahui sakit mata yang dirasakannya namun dokter yang menanganinya tidak bisa mendiagnosa dan mengatakan baik-baik saja. Lalu pemeriksaan terakhir dilakukannya saat ia berusia 26 tahun di Rumah Sakit St Carolus, akhirnya dia mengetahui bahwa gangguan mata disebabkan adanya proses degenerasi sel dari saraf pengantar ransang cahaya dari retina ke otak.
Saat ia lulus sarjana tahun 1986, ia bertekad mewujudkan cita-citanya menjadi dosen di perguruan tinggi di Yogyakarta. Namun, baru sampai diloket pendaftaran, dia ditolak mendaftar. Pengalaman pahit ditolak bekerja tidak membatasi semangatnya bekerja dan bekarya menjadi pengrajin wayang dan ia belajar menjadi dalang. Menurut Sardjono manusia, entah cacat atau tidak, harus bekerja dan tidak boleh menganggur. Kerja adalah cara untuk menunjukan bahwa kita mempu berguna bagi sesame dan mampu bersyukur atas apa yang kita punya.
Menurut pendapat saya, sosok Agustinus Sardjono Hadisurjo merupakan sosok yang tangguh dan terus berusaha walaupun ia tidak bisa melihat lagi. Tetapi dengan menggunakan mata batinnya ia bisa membuat berbagai macam bentuk karya wayang yang indah dan diterima oleh masyarakat luas. Maka dari itu kita bisa mencontoh Bapak Sardjono agar terus berusaha dalam menjalani hidup dan terus berusaha dalam bekerja. Menerima kekurangan dan kelebihan yang kita miliki agar kita dapat merasakan apa yang kita miliki yang berasal hanya dari Tuhan.

Sumber : Koran Kompas ( Rabu, 3 Desember 2014)
Nama : Floretta Agnesia Kana
Kelas : La64
NIM : 1801379514

Terima Kasih :)