Cute Box Bear “Life isn't about finding yourself. Life is about creating yourself.” ― George Bernard Shaw

Rabu, 29 Oktober 2014

Definisi dari berpikir kritis,logika dan kekeliruan

Definisi dari Berpikir Kritis, Logika dan Kekeliruan 


Pada saat ini di dunia pendidikan terkadang seorang pelajar tidak mengetahui bagaimana cara belajar dan berpikir dan mendasari dari pengetahuan yang telah dipelajari. Oleh sebab itu mulai sekarang haru dimulai untuk mengetahui cara belajar dan berpikir. Ini merupakan penjelasan dari berpikir kritis.

Pengertian Berpikir Kritis :
n  Berfikir kritis adalah cara berfikir yang reflektif, beralasan yang difokuskan pada keputusan apa yang dilakukan atau diyakini (Jennicek,2006)

n  Berpikir kritis adalah proses untuk mengaplikasikan, menghubungkan, menciptakan, atau mengevaluasi informasi yang dikumpulkan secara aktif dan trampil (Abraham,2004)

n  Berpikir kritis merupakan proses yang penuh makna untuk mengarahkan dirinya sendiri dalam membuat suatu keputusan. Proses tersebut memberikan berbagai alasan sebagai pertimbangan dalam menentukan bukti, konteks, konseptualisasi, metode dan kriteria yang sesuai (American Philosophical Association, 1990) Komponen dari berpikir kritis adalah interpretation, analysis, evaluation, inference, explanation, dan self-regulation

n  Halpern membuat taksonomi ketrampilan berpikir kritis, yaitu: verbal-reasoning skills, argument-analysis skills, thinking skills, decision-making and problem-solving skills.

n  Karakter individu yang mendukung agar seseorang dapat berpikir kritis seperti yang dikutip oleh Duldt-Battey antara lain truth seeking, open-mindness, analyticity, systematicity, self-confidence, inquisitiveness, dan maturity

Berpikir kritis didasarkan pada nilai intelektual universal :
n  Kejelasan (Clarity)
1.      mampu mengelaborasi masalah
2.      mampu dengan cepat menemukan jalan keluarnya
3.      mampu memberikan ilustrasi
4.      mampu memberikan contoh

n  Keakuratan (Accuracy)
1.      Apakah hal tersebut benar ?
2.      Bagaimana dapat melakukan /cek bahwa itu akurat ?
3.      Bagaimana menentukan itu benar

n  Ketepatan (Precision)
1.      Mampu memberikan informasi lebih detail.
2.      Mampu memebrikan informasi lebih spesifik

n  Konsistensi (Consistency)
n  Relevansi (Relevance)
1.      Bagaimana menghubungkan ide dengan pertanyaan yang timbul ?
2.      Bagaimana menghubungkan dengan issu ?
3.      Bagaimana relasinya satu ide dengan ide lainnya

n  Bermakna (Significance)
1.      Informasi apa yang dibutuhkan lebih signifikan dalam isu tersebut ?
2.      Bagaimana  menentukan faktor yang penting dalam suatu konteks ?
3.      Pertanyaan yang mana yang lebih signifikan ?
4.      Mana yang lebih penting dan signifikan dalam ide atau konsep ?

n  Alasan yang logis (Logicalness)
1.      Berpikir logis, membuat pengertian, menemukan fakta/bukti/petunjuk

n  Kedalaman (Depth)
1.      Bagaimana menghitung berapa jumlah problem yang muncul dalam pertanyaan
2.      Bagaimana menguraikan faktor-faktor yang bermakna

n  Keluasan (Breadth)
1.      Bagaimana pandangan terhadap hasil pengamatan dari jawaban terhadap suatu pertanyaan/masalah?

n  Keadilan (Fairness)
Ketika mahasiswa berpikir terhadap problem dan berpikir membenarkan suatu problem harus wajar dalam konteks memberikan alasan dengan menggunakan standar intelektual. Dibutuhkan suatu informasi relevan dan signifikan, akan menjadi tidak wajar dan tidak benar bila menghadapi suatu problem berdasarkan assumsi.

Critical thinking atau berpikir kritis dapat diajarkan dengan cara memasukan dalam materi belajar aktif berupa diskusi-diskusi kelompok kecil yang di fasilitasi oleh seorang fasilitator.

Logika
            Pada saat ini pendidikan sangat berhubungan dengan logika yang ada dalam pikiran manusia. Selain itu logika juga sering dikaitkan dengan pelajaran matematika yang sering disebut logika matematika. Sekarang saya akan membahas pengertian dari logika secara dalam. Berikut penjelasannya :
Secara etimologi, logika diturunkan dari kata sifat logike, bahasa Yunani, yang berhubungan dengan kata logos,yang artinya pikiran atau perkatan sebagai pernyataan dari pikiran. Sumber lain mengatakan logika berasal dari kata logos yang berarti perkataan atau sabda. Istilah lainnya adalah mantiq, kata Arab yang diambil dari kata kerja nataqa yang berarti berkata atau berucap.
Pengertian logika secara terminologi menurut beberapa ahli,
1.      Logika adalah suatau pertimbangan akal atau pikiran yang diatur lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Jan Hendrik Rapar, (1996 : 5)
2.      Logika adalah ilmu dan kecakapan menalar, berpikir dengan tepat.W. Poespoprodjo, Ek. T. Gilarso. (2006: 13)
3.      Logika adalah suatu metode atau teknik yang diciptakan untuk meneliti ketepatan nenalar. Soekadijo, (1983-1994: 3)
4.      Aristoteles : logika adalahajaran tentang berpikir yang secara ilmiah membicarakan bentuk pikiran itu sendiri dan hukum-hukum yagn menguasai pikiran.

Macam-macam logika
a. Logika alamiah
Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subyektif. Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir.
b. Logika ilmiah
Logika ilmiah memperhalus, mempertajam pikiran serta akal budi.
Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah dan lebih aman. Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau, paling tidak, dikurangi.

Kekeliruan

Dalam perilaku manusia yang berkesadaran, kegiatan berfikir tidaklah terlepas dalam memutuskan, serta menyikapi kondisi social atau permasalahan yang ada. Berfikir adalah sebuah kegiatan yang hanya dimiliki oleh manusia. Dalam proses berfikir yang kemudian dimanifestasikan kedalam pemikiran serta tindakan manusia tidaklah menutup kemungkinan bahwa manusia dapat melakukan kesalahan dalam proses berfikirnya. Nah, dari alasan diatas maka dibawah ini adalah beberapa kekelirian yang kerap menjangkit pemikiran kita:

·         Fallacy of Retrospective Determinism
Kekeliruan berfikir yang ini dinyatakan untuk menyebut kebiasan orang yang menganggap masalah social yang ada sekarang terjadi sebagi sesuatu yang secara hgistoris memang selalu ada, tidak bias dihindari, dan merupakan akibat sejarah yang panjang.

·         Post Hoc Ergo Propter Hoc
Singkatnya untuk menjelaskan kekeliruan berfikir ini ialah sesudah itu –karena itu- oleh sebab itu. Jadi, apabila ada sebuah peristiwa yang terjadi dalam urutan temporal, maka kita menyatakan bahwa yang pertama adalah sebab dari yang kedua.

·         Fallacy of Dramatic Instance
Kekeliruan berfikir yang pertama ini kerap kali mengindap pemikiran kita. Kekeliruan berfikir ini berawal dari kecenderungan orang untuk melakukan pengambilan satu atau dua kasus untuk mendukung argument yang bersifat general atau umum atau dapat juga berupa satu-dua kasus yang dialami oleh seorang individu kemudian individu itu menggenarlisasikannya pada yang umum.

Kekeliruan berasal dari kata dasar ,keliru‟ yang dimaknai:
o salah: anggapan yang --;
o khilaf; silap: ia -- menendang bola ke gawang sendiri;
o sesat: ajaran yang --;
o tertukar: sandalnya -- dengan sandalku;
o ke·ke·li·ru·an n kesalahan; kekhilafan.

Sumber :

Nama : Floretta Agnesia Kana
Kelas : La64
NIM : 1801379514

Terima kasih :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar