Human Philosophical Reflections 1: Greece and Rome Philosophy, Changing Concepts of the Body, and the Games
1. Grecce / Yunani
1.1 Pengaruh Yunani
Yunani mengembangkan
banyak kepercayaan dunia Barat tentang tubuh dan pendidikan jasmani serta
adanya kemungkinan dengan Yahudi dan pengaruh Fenisia.
Terdapat dua sistem
metafisi di Yunani:
Naturalistik: kodrat
manusia adalah baik spiritual dan jasmani (fisik)
Pendidikan jasmani dan
intelektual sangat ditekankan
1.2 Metafisik Yunani
Pandangan yang
berlawanan Anti-naturalistik: kodrat manusia diciptakan oleh pikiran
- Pikiran dijunjung tinggi dari
tubuh
- Pendidikan jasmani tidak
diperlukan
Mengingat pendidikan
jasmani: hasil posisi metafisik tertentu kedua pandangan yang dipegang pikiran
di harga tinggi
- Berbeda pada pentingnya tubuh
- Pandangan naturalistik jauh
lebih popular
1.3 Philosophical Positions: The Body
Dualisme
- Penjelasan eksistensi manusia
berdasarkan kedua keyakinan metafisik dan teologis
- Socrates dan Plato
- Memiliki implikasi besar bagi
pendidikan jasmani
- Memisahkan eksistensi manusia
menjadi dua bagian, pikiran dan tubuh.
1.4 Greek
Ideals: Arete and Agon
- Cita-cita yang selaras dengan setiap
Yunani
- Yunani yang paling mirip dewa
ketika berjuang dan bersaing untuk keunggulan
- Cita-cita Yunani adalah sarjana
yang baik-atlet-prajurit
| Gambar 1.1 Arete Sumber : |
Arete
1.
Arete hanya mungkin
ketika individu berjuang
2.
Mereka yang berpikir
bahwa mereka telah mencapai hal itu telah hilang
3.
Telah disahkan menjadi
keangkuhan (kebanggaan berlebihan)
4.
Arete termasuk
kebajikan, keterampilan, kecakapan, kebanggaan, keunggulan, keberanian, dan
bangsawan (Stephen Miller)
Agon
1.
Agon: Homer
direferensikan sebagai tempat pertemuan di mana atletik diadakan
2.
Diperluas dari kompetisi
atletik
3.
Termasuk dalam kompetisi
musik, puisi, berbicara di depan umum dan acara lainnya
4.
Berkembang menjadi
agonis atau kompetitif
5.
Menjadi terkait dengan
proses (penderitaan) mempersiapkan untuk kompetisi apapun
| Gambar 1.2 Agon Sumber : |
2. Rome
2.1 The Etruscans
- 1958: penemuan makam yang berisi lukisan rumit yang
menggambarkan berbagai adegan olahraga
- Dikenal sebagai Makam Olimpiade
- Menggambarkan ras kaki, kontes melompat, diskusi,
kereta balap, melompati rintangan kayu, berenang, senam, pertempuran
bersenjata
- Patung menggambarkan pria dan wanita pegulat saling
bersaing.
- Menunjukkan bahwa pria dan wanita Etruscan berdua aktif
dan bersaing satu sama lain
- Olahraga dan festival atletik untuk hiburan
2.2 Roma dan Yunani
- Roma difokuskan pada praktis dan tujuan yang sangat
utilitarian
- Insinyur sipil yang besar, banyak jalan Romawi masih
tetap digunakan
- Administrator yang sangat efektif
- Hukum Romawi Dikembangkan
- Aspek dimasukkan budaya bangsa menaklukkan 'jika mereka
menjadikan lebih baik praktek Romawi
- Yunani sangat enggan untuk melakukan hal ini
3. Philosophical
Positions of the Body and Games
3.1 Philosophical
Positions of the Body
1.
Alkitab: kesempurnaan
dalam tubuh, pikiran, dan jiwa
2.
Posisi filosofis tubuh
muncul dari teologi
3.
Tuhan menciptakan alam
semesta, pria dan wanita, pikiran dan tubuh
4.
Tubuh dan jiwa yang baik
5.
Metafisika / ontologi
menjadi membingungkan selama perdebatan abad pertengahan
Human
Philosophical Reflections 2: Knowledge, Intelligence, Affection, and Freedom
1. Knowledge
(Pengetahuan)
| Gambar 1.1 Knowledge Sumber : |
1.1 Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan tidak bisa dipandang seperti memandang suatu objek yang terdapat di sana, didepan subjek, yang dapat dijangkau oleh pandangan dan oleh tangan manusia. Permasalahan kritis di sini adalah kompleksitas pengetahuan manusia yang sulit dijangkau secara lengkap, utuh, dan paripurna oleh budi manusia yang terbatas.
1.2 Jenis-jenis
Pengetahuan
1. Pengetahuan indrawi
lahir atau indrawi luar adalah saat orang mencapainya secara langsung, melalui
penglihatan, pendengaran, pembau, perasaan, serta peraba setiap kenyataan yang
mengelilinginya.
2. Pengetahuan indrawi
batin adalah ketika menampakkan dirinya kepada orang dengan ingatan dan
khayalan, baik mengenai apa yang tidak ada lagi atau yang belum pernah ada
maupun yang terdapat di luar jangkauannya.
3. Pengetahuan
perseptif, adalah ketika muncul secara spontan, pengetahuan itu memungkinkan
orang untuk menyesuaikan dirinya secara langsung dengan situasi yang disajikan.
Pengetahuan dalam arti ini lebih menyatakan dirinya melalui gerakan tangan,
tingkah laku, gerakan-gerakan, sikap-sikap, tindakan, serta jerit teriakan,
daripada dengan perkataan yang dipikirkan atau dengan keterangan yang jelas.
4. Pengetahuan refleksif
adalah ketika pengetahuan itu membuat objektif kodrat dari suatu realitas apa
pun juga. Pengungkapannya adalah, baik dalam bentuk ide, konsep, definisi,
serta putusan-putusan maupun dalam bentuk lambang, mitos, atau karya-karya
seni.
5. Pengetahuan diskursif
adalah pengetahuan yang memperhatikan suatu aspek dari benda kemudian suatu
aspek yang lain, ketika pengetahuan itu pergi dan datang dari keseluruhan ke
bagian-bagian, dan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Pengetahuan dalam arti
ini lebih menampakkan diri sebagai sesuatu yang datang dari sebab ke akibat dan
dari akibat ke sebab, dari prinsip ke konsekuensi dan dari konsekuensi ke
prinsip, dan sebagainya.
6. Pengetahuan intuitif
adalah ketika pengetahuan menangkap atau memahami secara langsung benda atau
situasi dalam salah satu aspeknya, keseluruhan dalam satu bagian, sebab dalam
akibat, konsekuensi dalam prinsip, dan sebagainya.
7. Pengetahuan induktif,
bila menarik yang universal dari yang individual
8. Pengetahuan deduktif,
bila menarik yang individual dari yang universal.
9. Pengetahuan
kontemplatif adalah saat mempertimbangkan benda-benda dalam dirinya dan untuk
dirinya sendiri.
10. Pengetahuan
spekulatif adalah saat mempertimbangkan benda-benda dalam bayangan-bayangan dan
ide-ide, atau konsep-konsep tentang benda-benda itu.
11. Pengetahuan Praktis
adalah saat mempertimbangkan benda-benda menurut bagaimana mereka bisa
dipergunakan.
12. Pengetahuan sinergis
adalah akumulasi dari seluruh daya kemampuan dari subjek (yang sedang
mengetahui).
Keseluruhan jenis
pengetahuan ini dikoordinasikan dari anggota-anggotanya, organ-organnya, dan
kemampuan-kemampuannya, yang indrawi dan intelektif.
2. Intelligence
(Kecerdasan)
| Gambar 1.2 Intellegence Sumber : |
2.1 Pengertian
Istilah Inteligensi
diambil dari kata intellectus dan kata kerja intellegere (bahasa
Latin). Kata intellegere terdiri dari kata intus yang
artinya dalam pikiran atau akal, dan kata legere yang
berarti membaca atau menangkap. Kata intellegere dengan
ini berarti membaca dalam pikiran atau akal segala hal dan menangkap artinya
yang dalam.
Inteligensi adalah
kegiatan dari suatu organisme dalam menyesuaikan diri dengan situasi-situasi,
dengan menggunakan kombinasi fungsi-fungsi seperti persepsi, ingatan, konseptual,
abstraksi, imajinasi, atensi, konsentrasi. seleksi relasi, rencana,
ekstrapolasi, prediksi, kontrol (pengendalian), memilih, mengarahkan. Berbeda
dengan naluri, kebiasaan, adat istiadat, hafalan tanpa mempergunakan pikiran,
tradisi.
Pada tingkat intelek
(pemahaman) yang lebih tinggi, inteligensi juga dapat diartikan sebagai proses
pemecahan masalah-masalah (soal-soal kebingungan) dengan penggunaan pemikiran
abstrak.
2.2 Bentuk-Bentuk
Kegiatan Intelektif Manusia
- Pengetahuan intelektif yang
paling rendah atau yang paling
sederhana adalah penglihatan atau penanggapan (persepsi). Kegiatan
intelektif pada tahap yang rendah atau sederhana ini umumnya digerakkan
secara tidak sadar dan prareflektif. Persepsi ini, misalnya, tampak pada
refleksi spontan, prasadar, dan prapribadi.
- Bentuk pengetahuan intelektif
berikutnya adalah aprehensi (penampakan) yaitu bentuk
pengetahuan di mana sudah terdapat kesadaran, meskipun subjek menerima apa
yang terjadi pada dirinya secara pasif tanpa diinginkannya. Heidegger
dalam pandangan fenomenologi eksistensialnya antara lain menyebut kegiatan
inteligensi ini sebagai sesuatu penerangan atau satu tindakan penyingkapan
dan pemanifestasian
- Insight yang merupakan penangkapan intelektual secara
mendadak mengenai objek. Melalui tahap ini inteligensi manusia tidak hanya
menyadari secara pasif apa yang terjadi, tetapi berusaha untuk menangkap
esensi atau hakikat atau inti peristiwa tertentu.
- Pengetahuan yang semakin
kompleks lagi adalah kegiatan bernalar yang bersifat diskursif. Istilah
diskursif dari kata di-curres artinya berlari ke berbagai arah melalui
induksi, deduksi, refleksi, subjektif-objektif, dan sebagainya (Leahy,
1993: 132).
- Tahap kegiatan intelektual yang
lebih tinggi adalah tahap keputusan
sebagai keyakinan akan kebenaran atau kesalahan dari hasil penyelidikan
tertentu.
3. Affection (Afeksi)
| Gambar 1.3 Afeksi Sumber : |
3.1 Pengertian
Cipta (kognisi), karsa
(konasi), rasa (afeksi), itulah trias-dinamika manusia, atau manusia sebagai
trias-dinamika.Diakui bahwa manusia bukan saja memiliki kemampuan
kognitif-intelektual, tetapi juga afektivitas. Jelasnya, di samping
pengetahuan, afektivitas juga membuat manusia berada secara aktif dalam
dunianya serta berpartisipasi dengan orang lain dan dengan peristiwa-peristiwa
dunianya.
3.2 Kondisi subjek
melahirkan afektivitas
Jadi, untuk mencapai
afektivitas, subjek harus berada dalam kondisi dimana subjek akan melahirkan
kegiatan afektif. Adapun kondisi-kondisi tersebut ialah:
- Pertama, antara subjek dan objek harus ada ikatan
kesamaan atau kesatuan itu sendiri, karena ketika tidak ada kesamaan maka
tidak akan ada afektivitas.
- Kedua, nilai (baik dan buruk), dalam kondisi ini,
ketika objek dipandang memiliki sebuah nilai maka subjek akan melahirkan
kegiatan afektif
- Ketiga, sifat dasariah dan kecenderungan kognitif, pada
kondisi ini subjek akan dalam melakukan sebuah afektif harus ditunjang
dengan sebuah sifat dasariah yang akan mendorong dia untuk lebih
cenderung, selera, berkeinginan akan sesuatu yang pada akhirnya akan
menimbulkan kegiatan afektif yang ternyata memang sesuai dengan sifat
dasariah tersebut.
- Keempat, mengenal adalah kausa dari afektivitas. Dalam
proses mengenal subjek akan mengalami kondisi dimana dia harus berusaha
mendefinisikan objek yang akan dikenalinya
- Kelima, imajinasi. Untuk menimbulkan kegiatan afektif
maka imajinasi dapat menjadi sebuah pendorong, semangat, mempengaruhi
bahkan membohongi.
4. Freedom (Kebebasan)
4.1 Pengertian
Manusia akan mungkin
merealisasikan dirinya secara penuh jika ia bebas. Gagasan kebebasan
semacam ini selalu aktual dalam hidup manusia selain karena kebebasan merupakan
hal yang tidak bisa dipisahkan dari diri manusia, juga karena kebebasan itu
dalam kenyataannya merupakan suatu yang bersifat "fragile"; kebebasan
bersifat sensitif dan rapuh. Manusia adalah makhluk yang bebas, namun sekaligus
manusia adalah makhluk yang harus senantiasa memperjuangkan kebebasannya. “Freedom
is self-determination”. Berdasarkan pengertian itu dapat dikatakan bahwa
kebebasan merupakan sesuatu sifat atau ciri khas perbuatan dan kelakuan yang
hanya terdapat dalam manusia dan bukan pada binatang atau benda-benda.
Human Organizations:
Group, Communities, Famillies, Cities, and States
1. Group
Gambar 1.1 Groups Sumber : |
Groups atau kelompok adalah sejumlah
orang dengan norma, nilai-nilai, dan harapan yang mirip dan berinteraksi secara
teratur.
1.1 Terdapat berbagai macam tipe
groups:
1.1.1 Primary Group
Kelompok kecil yang intim,
berasosiasi dan bekerja sama face-to-face atau dengan bertemu.
1.1.2 Secondary Group
Formal, bersifat umum, hanya sedikit
keintiman sosial dan saling pengertian yang ada.
1.1.3 In Group
Suatu group atau kategori dimana
seseorang merasa disana tempat mereka seharusnya.
1.1.4 Out Group
Suatu group atau kategori dimana
seseorang merasa disana bukan tempat mereka.
1.1.5 Reference Group
Suatu group dimana seseorang
menggunakannya sebagai standar untuk mengukur perilaku mereka sendiri.
1.2 Small Group
Dimana group sudah cukup kecil untuk
anggota group berinteraksi terus-menerus.
1.2.1 Dyad adalah group yang terdiri
dari dua orang
1.2,2 Triad adalah group yang
terdiri dari tiga orang
2. Family
Family atau keluarga adalah
orang-orang yang berhubungan darah, perkawinan, atau hubungan yang disepakati
lainnya, atau adopsi yang berbagi tanggung jawab utama untuk reproduksi dan merawat
anggota masyarakat.
2.1 Komposisi Keluarga
2.1.1 Nuclear Family
Keluarga yang terdiri dari keluarga
inti seperti ayah,ibu, dan anak-anaknya.
2.1.2 Extended Family
Suatu kelurga dimana terdapat
keluarga lain seperti kakek, nenek, om, tante, dll. yang tinggal satu rumah
dengan keluarga inti yang terdiri dari ayah,ibu, dan anak-anaknya.
2.1.3 Polygamy
Ketika seorang individu memiliki
beberapa suami atau istri secara bersamaan.
2.1.4 Polyginy
Seorang pria yang memiliki lebih
dari satu istri.
2.1.5 Polyandry
Seorang wanita yang memiliki lebih
dari satu suami.
2.2 Pola Kinship
2.2.1 Bilateral Descent
Kedua belah pihak keluarga seseorang
dianggap sama pentingnya.
2.2.2 Patrilineal Descent
Hanya keluarga dari pihak ayah yang
dianggap penting.
2.2.3 Matrilineal Descent
Hanya keluarga dari ibu yang
dianggap penting.
2.3 Authority Patterns
2.3.1 Patriarchy
Laki-laki yang diperkirakan akan
mendominasi dalam semua pengambilan keputusan keluarga.
2.3.2 Matriarchy
Wanita memiliki kewenangan yang
lebih besar daripada laki-laki.
2.3.3 Egalitarian family
Keluarga dimana ayah dan ibu
dianggap mempunyai kewenangan yang sama.
2.4 Enam Fungsi keluarga:
1. Protection atau perlindungan
2. Socialization atau sosialisasi
3. Reproduction atau reproduksi
4. Regulation of sexual behavior
atau Peraturan perilaku seksual
5. Affection and companionship atau
kasih sayang dan persahabatan
6. Provision of social status atau
pemberian status sosial
3.1 Early Communities
Tergantung pada lingkungan fisik
untuk pasokan makanan.Masyarakat hortikultura menyebabkan perubahan dramatis
dalam organisasi sosial manusia. Tidak lagi diperlukan untuk bergerak mencari
makanan. Masyarakat yang stabil membantu mendirikan surplus makanan.
4. Cities
4.1 Preindustrial Cities
Hanya beberapa ribu orang yang
tinggal dalam perbatasan mereka. Ditandai dengan sistem kelas yang relatif
tertutup dan mobilitas sosial yang terbatas. Status biasanya didasarkan pada
karakteristik darimana berasal, dan pendidikan yang terbatas pada elit.
Masih kecil karena :
· Ketergantungan pada kekuatan hewan
· Tingkat sederhana surplus
· Masalah transportasi dan penyimpanan makanan
· Kesulitan migrasi ke kota
· Bahaya kehidupan kota
4. 2 Industrial and Postindustrial
Cities
- Industri kota : lebih padat penduduk dan kompleks
daripada pendahulunya
- Pascaindustri Kota : keuangan global dan aliran
informasi elektronik mendominasi perekonomian
- Urbanisme : relatif besar dan pemukiman permanen
menyebabkan pola khas perilaku.Urbanisasi menjadi aspek utama bagi
kehidupan di AS. Selama berabad-abad ke-20 dan ke-19 dan awal, urbanisasi
yang cepat terjadi dikota-kota Eropa dan Amerika Utara. Sejak Perang Dunia
II, urban “ledakan” melanda Negara-negara berkembang di dunia.
4.3 Lima Jenis Tipe yang terdapat di
kota menurut Gans:
- Cosmopolites
- Tidak menikah dan tidak mempunyai anak
- Desa etnik
- Kota yang dirampas
- Kota yang terjebak
4.4 Masalah yang terdapat di kota:
- kejahatan
- polusi
- sekolah-sekolah
- transportasi yang tidak memadai
4.5 Suburbs
Setiap komunitas dekat kota besar.
Tiga factor sosial membedakan pinggiran kota dari kota-kota:
- Kurang padat daripada kota-kota
- Ruang pribadi
- Kode bangunan yang lebih menuntut
Ekspansi Suburban
Suburbanisasi paling dramatis dan
tren bagi penduduk As selama abad ke- 20. Keanekaragaman dipinggiran kota.
Pinggiran kota mengandung sejumlah masyarakat berpenghasilan rendah dari semua
latar belakang.
5. States
![]() | |
|
Sebuah negara adalah masyarakat
dengan pemerintah pusat formal, dan pembagian masyarakat ke dalam kelas. Sebuah
negara mengendalikan wilayah daerah tertentu. Negara memiliki ekonomi pertanian
produktif, mendukung populasi padat. Negara apada awalnya telah memaksakan
bangunan umum dan arsitektur, termasuk kuil, istana, dan gudang. Negara
mengembangkan bebrapa bentuk system pencatatan, biasanya dalam naskah tertulis.
5.1 Eligatarian Society
Kebanyakan biasanya ditemukan di
antara pemburu dan suku.
Masyarakat ini tidak memiliki
perbedaan statusnya kecuali yang berdasarkan usia, jenis kelamin, dan kualitas
individu, bakat, dan prestasi. Semua orang dilahirkan sama, tapi selama hidup
mereka mencapai status yang berbeda.
5.2 Ranked Society
Masyarakat ini memiliki
ketidaksetaraan turun-temurun, tetapi kuramg dalam stratifikasi sosial.
Ada kontinum status sebagai individu
yang peringkat dalam hal jarak silsilah mereka dari kepala.
Tidak semua masyarakat peringkat
yang chiefdom, hanya mereka yang ada adalah hilangnya otonomi desa disebut
chiefdom.
5. 3 Alasan Negara dapat runtuh
· Invasi
· Penyakit
· Degradasi Lingkungan
· Negara runtuh ketika mereka gagal untuk melakukan apa yang
seharusnya mereka lakukan seperti menjaga ketertiban sosial, melindungi diri
terhadap orang luar, dan memungkinkan orang untuk makan sendiri.
Disarikan dari :
1. Materi Ringkasan Pertama, disarikan dari power
point Binusmaya tentang materi Human Philosophical Reflections 1: Greece
and Rome Philosophy, Changing Concepts of the Body, and the Games yang diunduh
pada tanggal 17 Maret 2015
2. Materi Ringkasan kedua, disarikan dari materi
Binusmaya Pertemuan ke-5 tentang Human Philosophical Reflections 2: Knowledge,
Intelligence, Affection, and Freedom.
3. Materi Ringkasan ketiga, disarikan dari binusmaya
Pertemuan ke-6 (9-10 April 2015) Human Organizations : Group,
Communities, Famillies, Cities, and States . Copyright 2007 by the
McGraw-Hill Companies, Inc. All rights reserved.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar