Cute Box Bear “Life isn't about finding yourself. Life is about creating yourself.” ― George Bernard Shaw

Rabu, 03 Desember 2014

Membuat Wayang dengan Mata Batin



Agustinus Sardjono Hadisurjo 








   Agustinus Sardjono Hadisurjo adalah perajin wayang sekaligus dalang tunanetra asal Yogyakarta. Berbagai ragam wayang telah dibuatnya mulai dari wayang beber, wayang kulit, wayang klithik, dan patung tokoh dari dunia pewayangan. Semua ide dan hasil kreasinya berasal dari kenangan, memori tentang wayang yang terekam kuat dalam pikirannya sejak masih berusia balita hingga sebelum dia kehilangan penglihatan.
Dalam membuat setiap karya wayangnya ia selalu melakukan finishing dengan cara perabaan dan dalam tahap ini Sardjono merasa bahwa tangan Tuhan sungguh bekerja dalam membantunya untuk bisa memperbaiki karyanya hingga menjadi karya yang baik dan sempurna. Membuat wayang dianggapnya sebagai bagian dari seni tradisi agung. Sardjono memang tidak main-main dalam membuat setiap karyanya dan setiap karya harus dipastikannya dilakukan dengan hati-hati dan teliti.
Dari proses yang telah dilakukan Sardjono inilah lahir beragam seni kerajinan wayang yang memikat. Ratusan produk selalu dibuat setiap bulan dan omzet yang didapatkan Rp 25 jut per bulan. Sebagian karyanya dijual di pasar domestic dan sebagian lain ke kolektor-kolektor asing di sejumlah Negara, anatara lain Hongkong, Amerika Serikat, Belanda, dan Jepang. Penjualan langsung ini tanpa melalui eksportir.
Kelainan mata yang dirasakan Sardjono sejak usia 14 tahun dengan keluhan sering pusing. Ketika itu, dia merasa pandangannya sering kabur, seperti kunang-kunang yang dilihatnya. Semenjak itu Sardjono rajin pergi ke rumah sakit untuk mengetahui sakit mata yang dirasakannya namun dokter yang menanganinya tidak bisa mendiagnosa dan mengatakan baik-baik saja. Lalu pemeriksaan terakhir dilakukannya saat ia berusia 26 tahun di Rumah Sakit St Carolus, akhirnya dia mengetahui bahwa gangguan mata disebabkan adanya proses degenerasi sel dari saraf pengantar ransang cahaya dari retina ke otak.
Saat ia lulus sarjana tahun 1986, ia bertekad mewujudkan cita-citanya menjadi dosen di perguruan tinggi di Yogyakarta. Namun, baru sampai diloket pendaftaran, dia ditolak mendaftar. Pengalaman pahit ditolak bekerja tidak membatasi semangatnya bekerja dan bekarya menjadi pengrajin wayang dan ia belajar menjadi dalang. Menurut Sardjono manusia, entah cacat atau tidak, harus bekerja dan tidak boleh menganggur. Kerja adalah cara untuk menunjukan bahwa kita mempu berguna bagi sesame dan mampu bersyukur atas apa yang kita punya.
Menurut pendapat saya, sosok Agustinus Sardjono Hadisurjo merupakan sosok yang tangguh dan terus berusaha walaupun ia tidak bisa melihat lagi. Tetapi dengan menggunakan mata batinnya ia bisa membuat berbagai macam bentuk karya wayang yang indah dan diterima oleh masyarakat luas. Maka dari itu kita bisa mencontoh Bapak Sardjono agar terus berusaha dalam menjalani hidup dan terus berusaha dalam bekerja. Menerima kekurangan dan kelebihan yang kita miliki agar kita dapat merasakan apa yang kita miliki yang berasal hanya dari Tuhan.

Sumber : Koran Kompas ( Rabu, 3 Desember 2014)
Nama : Floretta Agnesia Kana
Kelas : La64
NIM : 1801379514

Terima Kasih :)


2 komentar:

  1. Walaupun memiliki kekurangan namun ini tidak menjadi masalah yang besarr bagi sosok Agustinus ini. Ia tetap dapat menghasilkan sesuatu walaupun dengan keterbatasan yang dimilikinya. Pengalan pahit ditolak saat ingin daftar untuk menjadi dosen tidak menyurutkan semangatnya, ia tetap terus berusaha dan bertekat, berkat tekat inilah ia dapat menjadi manusia yang berguna dapat menghasilkan suatu barang dan menghasilkan uang. Semangat ini didasari dengan pendapatnya bahwa manusia haruslah bekerja untuk membuktikan bahwa kita dapat berguna bagi orang lain.
    Makasih flo atas postingan sosok ini ;)

    BalasHapus
  2. Membaca sosok ini saya sedih, terharu, dan sedikit merasakan adanya sindiran. Saya sedih karena beliau memiliki kekurangan dibagian mata yang tidak dapat melihat, saya juga terharu karena beliau dapt menyelesaikan finishing wayang dengan teliti dan sangat hati-hati. Saya juga merasa sedikit tersindir dari sosok ini, karena dengan keterbatan beliau (tidak melihat) beliau bisa berkarya dan mempunyai pemikiran bahwa kerja adalah cara untuk menunjukan bahwa kita mampu berguna bagi sesama dan mampu bersyukur atas apa yang kita punya. Sangat menyedihkan jika kita yang dilahirkan sempurna tidak mau berusaha apalagi bekerja. Sosok ini sangat membuat kita menjadi intospeksi diri :)

    BalasHapus