Agustinus Sardjono Hadisurjo
Agustinus
Sardjono Hadisurjo adalah perajin wayang sekaligus dalang tunanetra asal
Yogyakarta. Berbagai ragam wayang telah dibuatnya mulai dari wayang beber, wayang
kulit, wayang klithik, dan patung tokoh dari dunia pewayangan. Semua ide dan
hasil kreasinya berasal dari kenangan, memori tentang wayang yang terekam kuat
dalam pikirannya sejak masih berusia balita hingga sebelum dia kehilangan
penglihatan.
Dalam
membuat setiap karya wayangnya ia selalu melakukan finishing dengan cara
perabaan dan dalam tahap ini Sardjono merasa bahwa tangan Tuhan sungguh bekerja
dalam membantunya untuk bisa memperbaiki karyanya hingga menjadi karya yang
baik dan sempurna. Membuat wayang dianggapnya sebagai bagian dari seni tradisi
agung. Sardjono memang tidak main-main dalam membuat setiap karyanya dan setiap
karya harus dipastikannya dilakukan dengan hati-hati dan teliti.
Dari
proses yang telah dilakukan Sardjono inilah lahir beragam seni kerajinan wayang
yang memikat. Ratusan produk selalu dibuat setiap bulan dan omzet yang
didapatkan Rp 25 jut per bulan. Sebagian karyanya dijual di pasar domestic dan
sebagian lain ke kolektor-kolektor asing di sejumlah Negara, anatara lain
Hongkong, Amerika Serikat, Belanda, dan Jepang. Penjualan langsung ini tanpa
melalui eksportir.
Kelainan
mata yang dirasakan Sardjono sejak usia 14 tahun dengan keluhan sering pusing.
Ketika itu, dia merasa pandangannya sering kabur, seperti kunang-kunang yang
dilihatnya. Semenjak itu Sardjono rajin pergi ke rumah sakit untuk mengetahui
sakit mata yang dirasakannya namun dokter yang menanganinya tidak bisa mendiagnosa
dan mengatakan baik-baik saja. Lalu pemeriksaan terakhir dilakukannya saat ia
berusia 26 tahun di Rumah Sakit St Carolus, akhirnya dia mengetahui bahwa
gangguan mata disebabkan adanya proses degenerasi sel dari saraf pengantar
ransang cahaya dari retina ke otak.
Saat
ia lulus sarjana tahun 1986, ia bertekad mewujudkan cita-citanya menjadi dosen
di perguruan tinggi di Yogyakarta. Namun, baru sampai diloket pendaftaran, dia
ditolak mendaftar. Pengalaman pahit ditolak bekerja tidak membatasi semangatnya
bekerja dan bekarya menjadi pengrajin wayang dan ia belajar menjadi dalang.
Menurut Sardjono manusia, entah cacat atau tidak, harus bekerja dan tidak boleh
menganggur. Kerja adalah cara untuk menunjukan bahwa kita mempu berguna bagi sesame
dan mampu bersyukur atas apa yang kita punya.
Menurut
pendapat saya, sosok Agustinus Sardjono Hadisurjo merupakan sosok yang tangguh
dan terus berusaha walaupun ia tidak bisa melihat lagi. Tetapi dengan
menggunakan mata batinnya ia bisa membuat berbagai macam bentuk karya wayang
yang indah dan diterima oleh masyarakat luas. Maka dari itu kita bisa mencontoh
Bapak Sardjono agar terus berusaha dalam menjalani hidup dan terus berusaha
dalam bekerja. Menerima kekurangan dan kelebihan yang kita miliki agar kita
dapat merasakan apa yang kita miliki yang berasal hanya dari Tuhan.
Sumber : Koran Kompas ( Rabu, 3 Desember 2014)
Nama : Floretta Agnesia Kana
Kelas : La64
NIM : 1801379514
Terima Kasih :)
Walaupun memiliki kekurangan namun ini tidak menjadi masalah yang besarr bagi sosok Agustinus ini. Ia tetap dapat menghasilkan sesuatu walaupun dengan keterbatasan yang dimilikinya. Pengalan pahit ditolak saat ingin daftar untuk menjadi dosen tidak menyurutkan semangatnya, ia tetap terus berusaha dan bertekat, berkat tekat inilah ia dapat menjadi manusia yang berguna dapat menghasilkan suatu barang dan menghasilkan uang. Semangat ini didasari dengan pendapatnya bahwa manusia haruslah bekerja untuk membuktikan bahwa kita dapat berguna bagi orang lain.
BalasHapusMakasih flo atas postingan sosok ini ;)
Membaca sosok ini saya sedih, terharu, dan sedikit merasakan adanya sindiran. Saya sedih karena beliau memiliki kekurangan dibagian mata yang tidak dapat melihat, saya juga terharu karena beliau dapt menyelesaikan finishing wayang dengan teliti dan sangat hati-hati. Saya juga merasa sedikit tersindir dari sosok ini, karena dengan keterbatan beliau (tidak melihat) beliau bisa berkarya dan mempunyai pemikiran bahwa kerja adalah cara untuk menunjukan bahwa kita mampu berguna bagi sesama dan mampu bersyukur atas apa yang kita punya. Sangat menyedihkan jika kita yang dilahirkan sempurna tidak mau berusaha apalagi bekerja. Sosok ini sangat membuat kita menjadi intospeksi diri :)
BalasHapus